Senin, 24 November 2014

Sejarah Manusia



1.     Pengertian Konsep waktu
Konsep waktu dalam sejarah mempunyai arti kelangsungan (continuity) dan satuan atau jangka berlangsungnya perjalanan waktu (duration). Kelangsungan waktu atas kesadaran manusia, terhadap waktu dibagi menjadi tiga, dimensi yaitu: waktu yang lalu, waktu sekarang, dan waktu yang akan datang di dalam satu kontinuitas.
Dimensi waktu dalam sejarah adalah, penting sekali, karena, peristiwa yang menyangkut masyarakat manusia terjadi atau berlangsung dalam dimensi ruang dan waktu. Akan tetapi karena, tak dapat ditentukan kapan waktu berawal dan dan kapan waktu berakhir, maka terbatasnya konsep tentang kelangsungan waktu itu lalu dibatasi dengan awal dan akhir atas dasar kesadaran manusia yang disebut periode atau kurun waktu atau babakan waktu. Babakan waktu juga dinamai penzaman, seralisasi, periodesasi dan masa.


1.Pengertian konsep waktu dalam sejarah
a. Konsep
Konsep Merupakan Konsep atau anggitan adalah abstrak, entitas mental yang universal yang menunjuk pada kategori atau kelas dari suatu entitas, kejadian atau hubungan. Istilah konsep berasal dari bahasa latin conceptum, artinya sesuatu yang dipahami. Aristoteles dalam "The classical theory of concepts" menyatakan bahwa konsep merupakan penyusun utama dalam pembentukan pengetahuan ilmiah dan filsafat pemikiran manusia. Konsep merupakan abstraksi suatu ide atau gambaran mental, yang dinyatakan dalam suatu kata atau simbol. Konsep dinyatakan juga sebagai bagian dari pengetahuan yang dibangun dari berbagai macam kharakteristik.
Berbagai pengertian konsep dikemukan oleh beberapa pakar. Konsep didefinisikan sebagai suatu arti yang mewakili sejumlah objek yang mempunyai ciri-ciri yang sama. Konsep diartikan juga sebagai suatu abstraksi dari ciri-ciri sesuatu yang mempermudah komunikasi antar manusia dan memungkinkan manusia untuk berpikir. Pengertian konsep yang lain adalah sesuatu yang umum atau representasi intelektual yang abstrak dari situasi, obyek atau peristiwa, suatu akal pikiran, suatu ide atau gambaran mental. Suatu konsep adalah elemen dari proposisi seperti kata adalah elemen dari kalimat. Konsep adalah abstrak di mana mereka menghilangkan perbedaan dari segala sesuatu dalam ekstensi, memperlakukan seolah-olah mereka identik. Konsep adalah universal di mana mereka bisa diterapkan secara merata untuk setiap extensinya.
b. Waktu
waktu menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (1997) adalah seluruh rangkaian saat ketika proses, perbuatan atau keadaan berada atau berlangsung. Dalam hal ini, skala waktu merupakan interval antara dua buah keadaan/kejadian, atau bisa merupakan lama berlangsungnya suatu kejadian. Skala waktu diukur dengan satuan detik, menit, jam, hari, bulan,tahun, windu, dekade (dasawarsa), abad, milenium (alaf) dan seterusnya.
Waktu tentu bukanlah sesuatu yang asing bagi kita! Karena dalam kehidupan sehari-hari setiap orang selalu dibatasi oleh waktu. Apakah kita mengetahui definisi tentang waktu?
Waktu (time) merupakan salah satu konsep dasar sejarah selain ruang (space), kegiatan manusia (human activity). Perubahan (change) dan kesinambungan (continuity). Ia merupakan unsur penting dari sejarah yaitu kejadian masa lalu. Dengan kata lain waktu merupakan konstruksi gagasan yang digunakan untuk memberi makna dalam kehidupan di dunia. Manusia tak dapat dilepaskan dari waktu karena perjalanan hidup manusia sama dengan perjalanan waktu itu sendiri.
Tiap masyarakat memilki pandangan yang relatif berbeda tentang waktu yang mereka jalani. Contoh :
masyarakat Barat melihat waktu sebagai sebuah garis lurus (linier). Konsep garis lurus tentang waktu diikuti dengan terbentuknya konsep tentang urutan kejadian. Dengan kata lain sejarah manusia dilihat sebagai sebuah proses perjalanan dalam sebuah garis waktu sejak zaman dulu, zaman sekarang dan zaman yang akan datang. Berbeda dengan masyarakat Barat, masyarakat Hindu melihat waktu sebagai sebuah siklus yang berulang tanpa akhir.
Dari perjalanan di atas tentang waktu, khususnya konsep waktu yang lurus, masa lalu perkembangan sejarah manusia akan mempengaruhi perkembangan masyarakat masa kini dan masa yang akan datang.
Konsep waktu dalam sejarah mempunyai arti kelangsungan (continuity) dan satuan atau jangka berlangsungnya perjalanan waktu (duration). Kelangsungan waktu atas kesadaran manusia, terhadap waktu dibagi menjadi tiga, dimensi yaitu: waktu yang lalu, waktu sekarang, dan waktu yang akan datang di dalam satu kontinuitas.
Dimensi waktu dalam sejarah adalah, penting sekali, karena, peristiwa yang menyangkut masyarakat manusia terjadi atau berlangsung dalam dimensi ruang dan waktu. Akan tetapi karena, tak dapat ditentukan kapan waktu berawal dan dan kapan waktu berakhir, maka terbatasnya konsep tentang kelangsungan waktu itu lalu dibatasi dengan awal dan akhir atas dasar kesadaran manusia yang disebut periode atau kurun waktu atau babakan waktu. Babakan waktu juga dinamai penzaman, seralisasi, periodesasi dan masa.

2. Sejarah Kebudayaan dan Peradaban di Indonesia
a. Pengertian Kebudayaan
Kebudayaan sangat erat hubungannya dengan masyarakat. Melville J. Herskovits dan Bronislaw Malinowski mengemukakan bahwa segala sesuatu yang terdapat dalam masyarakat ditentukan oleh kebudayaan yang dimiliki oleh masyarakat itu sendiri. Istilah untuk pendapat itu adalah Cultural-Determinism.  Sehingga Kebudayaan merupakan keseluruhan system gagasan, tindakan dan hasil cipta, karsa dan rasa manusia untuk memenuhi kebutuhan kehidupanny dengan  cara belajar,  yang semuanya tersusun dalam kehidupan masyarakat. Kata kebudayaan berasal dari kata sansekerta, yaitu budhayah. Budhayah merupakan bentuk jamak dari kata budhi. Budhi berarti budi atau akal. Menurut arti katanya kebudayaan adalah sesuatu yang dihasilkan oleh budi dan akal manusia.menurut arti sebenarnya kebudayaan adalah semua hasil cipta, rasa dan karsa manusia. Cipta menghasilkan ide-ide dan ilmu pengetahuan. Rasa, menghasilkan kaidah-kaidah kemasyarakatan dan kesenian/keindahan. Karsa, menghasilkan kehendak atau kemauan..
Adanya kebudayaan akibat manusia berhubungan dengan alam sekitarnya. Dengan akalnya manusia memikirkan dan memanfaatkan alam untuk kelangsungan hidupnya.
Kebudayaan manusia dapat digolongkan kedalam 7 unsur kebudayaan, yaitu :
§  Peralatan, antara lain : alat-alat rumah tangga, pakaian.
§  Mata pencaharian, antara lain : pertanian, peternakan, perdagangan, perindustrian, dan lain-lain.
§  Tata cara kemasyarakatan, meliputi : kekerabatan, orgaanisasi hukum, perkawinan, upacara-upacara, dan sebagainya.
§  Tata cara bahasa, yang meliputi bahasa lisan dan tulisan.
§  Ilmu pengetahuan, meliputi : ilmu pengetahuan alam, ilmu pengetahuan sosial dan lain-lain.
b. Peradaban
Peradaban manusia senantiasa menyertai berkembangnya kehidupan kebudayaan manusia. Perkembangan suatu peradaban terungkap dalam dalam dinamika kebudayaannya.
Peradaban  memiliki berbagai arti dalam kaitannya dengan masyarakat manusia. Seringkali istilah ini digunakan untuk merujuk pada suatu masyarakat yang "kompleks": dicirikan oleh praktik dalam pertanian, hasil karya dan pemukiman, berbanding dengan budaya lain, anggota-anggota sebuah peradaban akan disusun dalam beragam pembagian kerja yang rumit dalam struktur hirarki sosial.
Istilah peradaban sering juga digunakan sebagai persamaan yang lebih luas dari istilah "budaya" yang populer dalam kalangan akademis. Dimana setiap manusia dapat berpartisipasi dalam sebuah budaya, yang dapat diartikan sebagai "seni, adat istiadat, kebiasaan ... kepercayaan, nilai, bahan perilaku dan kebiasaan dalam tradisi yang merupakan sebuah cara hidup masyarakat". Namun, dalam definisi yang paling banyak digunakan, peradaban adalah istilah deskriptif yang relatif dan kompleks untuk pertanian dan budaya kota. Peradaban dapat dibedakan dari budaya lain oleh kompleksitas dan organisasi sosial dan beragam kegiatan ekonomi dan budaya.
Dalam sebuah pemahaman lama tetapi masih sering dipergunakan adalah istilah "peradaban" dapat digunakan dalam cara sebagai normatif baik dalam konteks sosial di mana rumit dan budaya kota yang dianggap unggul lain "ganas" atau "biadab" budaya, konsep dari "peradaban" digunakan sebagai sinonim untuk "budaya (dan sering moral) Keunggulan dari kelompok tertentu." Dalam artian yang sama, peradaban dapat berarti "perbaikan pemikiran, tata krama, atau rasa". Masyarakat yang mempraktikkan pertanian secara intensif; memiliki pembagian kerja; dan kepadatan penduduk yang mencukupi untuk membentuk kota-kota. "Peradaban" dapat juga digunakan dalam konteks luas untuk merujuk pada seluruh atau tingkat pencapaian manusia dan penyebarannya (peradaban manusia atau peradaban global). Istilah peradaban sendiri sebenarnya bisa digunakan sebagai sebuah upaya manusia untuk memakmurkan dirinya dan kehidupannya. Maka, dalam sebuah peradaban pasti tidak akan dilepaskan dari tiga faktor yang menjadi tonggak berdirinya sebuah peradaban. Ketiga faktor tersebut adalah sistem pemerintahan, sistem ekonomi, dan IPTEK.
3. Perbedaan antara Kebudayaan dan Perabadan
Kebudayaan dan peradaban adalah dua kata yang sampai sekarang masih menjadi perdebatan di kalangan ahli. Pendapat pertama menyatakan bahwa tidak ada perbedaan dalam penggunaan istilah “kebudayaan” dan “peradaban”. Sementara itu pendapat kedua menyatakan bahwa ada perbedaan terminologis antara “kebudayaan” dan “peradaban”. Tulisan ini secara ringkas mencoba untuk memberikan sedikit bahan untuk menjelaskan pandangan yang kedua tentang “kebudayaan” dan “peradaban” sebagai istilah yang memiliki perbedaan secara terminologis.

Ada beberapa ahli yang memberikan titik tekan berbeda untuk menjelaskan konsep tentang kebudayaan dan peradaban. Ahli-ahli tersebut antara lain Albin Small, Alfred Weber, dan Spengler. Bagi Albion Small peradaban adalah kemampuan manusia dalam mengendalikan dorongan dasar kemanusiaannya untuk meningkatkan kualitas hidupnya. Sementara itu, kebudayaan mengacu pada kemampuan manusia dalam mengendalikan alam melalui ilmu pengetahuan dan teknologi. Menurut Small, peradaban berhubungan dengan suatu perbaikan yang bersifat kualitatif dan menyangkut kondisi batin manusia, sedangkan kebudayaan mengacu pada sesuatu yang bersifat material, faktual, relevan, dan konkret.
4. Sejarah Manusia pada Masa Praaksara
sejarah masyarakan indonesia pada masa belum mengenal huruf (masa praaksara) sampai masyarakat indonesia mengenal huruf (masa aksara) dan tradisi-tradisi masyarakat indonesia yang ada pada masa praaksara dan pada masa aksara tersebut.
tradisi masyarakat indonesia pada masa praaksara  dan  tradisi masyarakat di masa aksara dapat dilihat seperti dibawah ini.
a.       Periodisasi masyarakat Indonesia masa praaksara
Masyarakat Indonesia sebelum mengenal aksara sudah memiliki tradisi sejarah. Maksud tradisi sejarah adalah bagaimana suatu masyarakat memiliki kesadaran terhadap masa lalunya. Kesadaran tersebut kemudian dia rekam dan diwariskan kepada generasi berikutnya. Perekaman dan pewarisan tersebut kemudian menjadi suatu tradisi yang hidup tumbuh dan berkembang dalam masyarakat. Bagaimanakah masyarakat yang belum mengenal tulisan merekam dan mewariskan masa lalunya? Bagaimanakah masyarakat yang belum mengenal tulisan memaknai masa lalunya? Masyarakat dalam memahami masa lalunya akan ditentukan oleh alam pikiran masyarakat pada masa itu atau “jiwa zaman”.
Dari kehidupan masyarakat zaman praaksara, kita mendapatkan warisan berupa alat- alat dari batu, tulang, kayu, dan logam serta lukisan pada dinding-dinding gua. Masa lampau yang hanya meninggalkan jejak-jejak sejarah tersebut menjadi komponen penting dalam usaha menuliskan sejarah kehidupan manusia. Jejak-jejak tersebut mengandung informasi yang dapat dijadikan bahan penulisan sejarah dan akan disampaikan dari generasi ke generasi berikutnya sampai turun temurun. Jejak sejarah yang historis merupakan jejak sejarah yang menurut para ahli memiliki informasi tentang kejadian- kejadian historis, sehingga dapat dipergunakan untuk penulisan sejarah. Jejak historis ada dua, yaitu jejak historis berwujud benda dan jejak historis yang berwujud tulisan. Jejak historis berwujud benda merupakan hasil budaya/tradisi di masa kuno, misalnya, tradisi zaman Paleolitikum, Mesolitikum, Neolitikum, Megalitikum, dan Perundagian.

b.      Ciri-ciri masyarakat praaksara
Setelah nenek moyang kita datang di Nusantara dan menetap, mereka meninggalkan tradisi, aturan kemasyarakatan, serta religi yang ditaati oleh  mereka dan anak keturunannya. Tradisi tersebut diwariskan kepada masyarakat hingga sekarang ini. Kemampuan nenek moyang kita sebelum mengenal tulisan dan sebelum terpengaruh budaya Hindu-Buddha oleh Brandes dikelompokkan sebagai berikut :
a.       Kemampuan berlayar
Nenek moyang bangsa Indonesia datang dari Yunan sebelum Masehi. Mereka sudah pandai mengarungi laut dan harus menggunakan perahu untuk sampai di Indonesia. Kemampuan berlayar ini dikembangkan di tanah baru, yaitu di Nusantara, mengingat kondisi geografi di Nusantara terdiri banyak pulau. Kondisi ini mengharuskan menggunakan perahu untuk mencapai kepulauan lainnya. Salah satu ciri perahu yang dipergunakan nenek moyang kita adalah perahu cadik, yaitu perahu yang menggunakan alat dari bambu atau kayu yang dipasang di kanan kiri perahu. Pembuatan perahu biasanya dilakukan secara gotong royong oleh kaum laki-laki. Setelah masa per- undagian, aktivitas pelayaran juga semakin meningkat.
b.      Kemampuan bersawah
Sistem persawahan mulai dikenal bangsa Indonesia sejak zaman Neolitikum, yaitu manusia hidup menetap. Mereka terdorong untuk mengusahakan sesuatu yang menghasilkan (food producing). Sistem persawahan diawali dari sistem ladang sederhana yang belum banyak menggunakan teknologi, kemudian meningkat dengan adanya teknologi pengairan hingga lahirlah sistem persawahan.
c.       Mengenal astronomi
Pengetahuan astronomi (ilmu perbintangan) sudah dimiliki nenek moyang bangsa Indonesia. Masyarakat Indonesia telah mengenal ilmu pengetahuan dan memanfaatkan teknologi angin musim sebagai tenaga penggerak dalam aktivitas pelayaran dan perdagangan.
d.      Sistem mocopat
Sistem mocopat adalah suatu kepercayaan yang didasarkan pada pembagian empat penjuru arah mata angin, yaitu utara, selatan, barat, dan timur. Sistem mocopat dikaitkan dengan pendirian bangunan, pusat kota atau pemerintah (istana), alun-alun, tempat pemujaan, pasar, dan penjara. Peletakan bangunan tersebut dibuat skema bersudut empat di mana setiap sudut mempunyai kemampuan dan kekuatan secara magis. Itulah sebabnya mengapa setiap desa pada zaman kuno selalu diberi sesaji pada waktu-waktu tertentu, bahkan hari pasaran menurut perhitungannya juga dikaitkan dengan sistem mocopat.
e.        Sistem kepercayaan
Manusia yang terdiri atas jasmani dan rohani memunculkan suatu kepercayaan bersifat rohani yang kemudian dipersonifikasikan dalam bentuk riil. Sistem kepercayaan masyarakat Indonesia mulai tumbuh pada masa hidup berburu dan mengumpulkan makanan, ini dibuktikan dengan penemuan lukisan dinding gua di Sulawesi Selatan berbentuk cap tangan merah dengan jari-jari yang direntangkan. Lukisan itu diartikan sebagai sumber kekuatan atau simbol perlindungan untuk mencegah roh jahat. Manusia di zaman hidup bercocok tanam sudah percaya adanya dewa alam yang menciptakan banjir, gunung meletus, gempa bumi, dan sebagainya.

Pembangunan Berkelanjutan
Pembangunan berkelanjutan atau sustainable development merupakan istilah yang lebih sering didengar pada beberapa dekade terakhir. Namun sesungguhnya istilah pembangunan berkelanjutan telah muncul justru sejak abad 17. Adalah Malthus dan Stanley Jevons yang memunculkan adanya istilah pembangunan berkelanjutan ini di abad ke 17 dan 18. Di dalam tulisan ini akan dijelaskan lebih lanjut mengenai konsep awal terciptanya pembangunan berkelanjutan dan perkembangan dari pembangunan berkelanjutan itu sendiri.
Sebelum memasuki mengenai konsep pembangunan berkelanjutan, perlu dipahami terlebih dahulu mengenai pentingnya collective action. Aksi yang dilakukan secara bersama-sama oleh seluruh lapisan masyarakat ini mejadi sebuah hal yang esensial untuk dapat menciptakan sebuah gerakan baru. Menurut Puspitasari (2013), collective action ini dibutuhkan karena adanya kegagalan pasar, sehingga public goods tidak dapat tersampaikan kepada masyarakat. Dari adanya kegagalan pasar inilah kemudian masyarakat bersama-sama membentuk sebuah aksi untuk mencapai public goods yang diinginkan tersebut.
Di awal kemunculan istilah pembangunan berkelanjutan, konsep ini hanya merujuk pada bagaimana upaya untuk mengatasi kerusakan lingkungan dan sumber daya alam yang selama ini ditimbulkan oleh semakin meningkatnya populasi manusia dan pertumbuhan industri. Sehingga dapat dikatakan bahwa pada awal perkembangan konsep pembangunan berkelanjutan hanya tertuju pada faktor lingkungan. Hal ini juga banyak mendapatkan kritik sebab para pencetus konsep untuk menjaga kelestarian lingkungan ini akan terus bertolak belakang dengan pertumbuhan kesejahteraan dan ekonomi. Sehingga konsep pembangunan berkelanjutan ini dianggap sebagai konsep yang tradisional.
Menginjak tahun 1980an, konsep mengenai pembangunan berkelanjutan ini mulai mengalami perkembangan. Tidak lagi dianggap tradisional, justru pembangunan berkelanjutan ini mencoba untuk mempersatukan mengenai penjagaan kelestarian lingkungan, perkembangan teknologi, investasi, dan perubahan-perubahan lain secara seimbang. Konsep ini pembangunan berkelanjutan yang baru ini dikembangkan oleh Ketua World Commission on Environment and Development (WCED) Gro Harlem Brundtland. Lebih lanjut, Bruntland mengonsepkan kembali bahwa pembangunan berkelanjutan tidak saja harus memenuhi kebutuhan dan bermanfaat bagi perkembangan dunia saat ini namun juga harus memenuhi kebutuhan manusia di masa depan. Bruntland menjelaskan konsep ini di dalam Bruntland Report dan memfokuskan ke dalam empat poin penting. Keempat poin tersebut adalah perubahan lingkungan saling berhubungan dengan yang lainnya, perubahan lingkungan dan perkembangan ekonomi saling berkaitan, permasalahan lingkungan dan ekonomi berkaitan dengan faktor sosial dan politik, setiap perubahan dan permasalahan dalam suatu negara dapat berdampak pada negara lainnya (WCED, 1987 dalam Baker, 2006).










Trans Zhen - Distributor Pulsa dan Percetakan



Trans Zhen adalah nama Distributor Pulsadan Percetakan, khususnya untuk area Jatilawang-Banyumas yang beralamat di desa Tunjung Rt 05 Rw 01 Kecamatan Jatilawang, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. Nama Trans Zhen sendiri berasal dari kata Transformation/transformasi dan Zaenal.  Transformasi kami singkat menjadi Trans dan Zaenal (pemilik dari Trans Zhen) disingkat biar agak keren menjadi Zhen.
Kami mulai terjun dalam bisnis distributor sejak awal November 2014. Awal cerita iseng-iseng ketimbang banyak waktu longgar yang terbuang setelah bekerja. Dipikir secara matang, bisnis ini sangat fleksibel  dan kami pun memilih. Pengalaman selama 2 tahun ini memang tak seberapa dibandingkan senior-senior kami yang lebih unggul, tapi kami yakin bisa memberikan pelayanan untuk masyarakat demi kemudahan akan kebutuhan dalam bidang pulsa sehari-harinya.
Untuk memberikan apresiasi kami kepada reseller/downline, Trans Zhen mencanangkan program bonus, yaitu
1.      Bonus Bulanan
Seperti yang anda ketahui setiap reseller yang mempunyai agen pasti akan mendapat bonus dari kantor tempat di mana ia mengambil deposit. Akan tetapi yang kami tawarkan lebih dari itu, bonus bulanan yang kami berikan asli dari kami sendiri dengan  melihat dari banyaknya transaksi yang anda lakukan. Jadi selain mendapat bonus dari server, anda juga mendapat bonus dari kami. Double donk….. gerrrrrrRRRR lah.
2.      Bonus THR Tahunan
Terinspirasi dari para pekerja pasti mengharapkan THR setiap tahunnya. Untuk itu kami ingin sekali memberikan Bonus THR bagi semua reseller/downline. Tentunya besarnya THR tidak seperti kalau kita habis pulang dari Jakarta. Hehehehe Besarnya bonus Tahunan ditentukan dari transaksi anda selama satu tahun penuh.
Tentunya semua program bonus di atas bukanlah hanya sebuah iming-iming agar anda bergabung dengan kami. Program yang kami canangkan tersebut benar-benar kami jalankan dengan baik. Semua itu karena rezeki kami sebagian berasal dari anda, kami menjadi besarpun karena kesetiaan anda. Untuk itulah semua ini kami hadirkan.
Untuk info dan pendaftaran silahkan hubungi
087835326711 – 085200280980 (Zaenal)